Awalnya sulit memilih judul yang bisa mengena dengan isi, tapi jika itu kenyataan
yang dicari, apapun judulnya, hidup terus berjalan. Loh?! Ya, di sini kita bicara soal pasangan hidup, tepatnya apa yang dicari pria dari wanita. Sayang sekali, kita tidak pernah menyadari jika mencari pasangan hidup mengikuti suatu kaidah hukum alam yang disebut hukum pelestarian.
Naluri? Itu yang kebanyakan kita tidak menyadarinya. Manusia, pria ataupun wanita
seringkali mengkamuflasekannya dengan perasaan, cinta, nurani, kasih, dan sayang. Tanpa kita sadari, semua bekerja sesuai dengan hukum pelestarian. Sayangnya, selain tidak menyadari, banyak di antara umat manusia yang mengatasnamakan cinta dan kasih sayang, justru untuk merusak tatanan keseimbangan alam yang sudah tercipta melalui hukum pelestarian.
Buat menyederhanakannya, saya mencoba untuk merangkaikan pemikiran yang
menitikberatkan pada sosok wanita. Awalnya, seorang sahabat memberitahukan
tentang 3 kriteria dari sosok wanita ideal. Kemudian saya menonton film
dokumenter WILD ANIMAL. Gak nyambung yah? Ikutin dulu aja. Lalu saya membaca
kisah-kisah roman dari Shakespeare. Di sini, saya mencoba menghubungkan dan
merangkaikan tatanan hukum pelestarian yang sebenarnya adalah refleksi cinta.
Dari sini pula akhirnya saya mulai memahami, siapa sesungguhnya wanita yang
dicari/diinginkan oleh pria.
Mengapa harus wanita?
Jangan lupa, wanita adalah kunci pelestarian. Ini tidak hanya terjadi pada
kelompok mamalia atau vertebrata, akan tetapi juga pada kelompok invertebrata.
Sekalipun dalam dunia homo sapiens, jumlah wanita lebih besar, akan tetapi kunci
pelestarian masih ada di tangan mereka. Satu lagi, ini sudah diakui sejak jaman
dahulu. Anda bisa melihatnya melalui artefak ataupun candi-candi yang mengagungkan wanita.
Lady, not Girl = Betina Yang Sesungguhnya
Saya lebih suka menyatakannya betina dalam arti yang sesungguhnya. Sekalipun
korelasinya masih ada, tapi ini bukan semata soal usia atau kedewasaan. Betina
yang sesungguhnya akan mencari pasangan karena dia membutuhkannya secara
naluriah. Mereka akan membuat dirinya menarik secara fisik untuk menarik
perhatian lawan jenisnya. Jangan lupa, ini termasuk bagian yang paling penting
dalam hukum pelestarian. Jika dia mulai menyukai, maka sifat kewanitaannya akan
ditunjukkan nyata di hadapan lawan jenisnya (yang disukainya).
Karakter wanita dalam arti betina yang sesungguhnya adalah wanita yang sangat
dibutuhkan oleh anak-anaknya nanti. Karakter betina adalah karakter yang sangat
kuat menentukan berjalannya hukum pelestarian. Jangan pernah menyepelekan
karakter betina. Mereka terlihat seolah lemah, tapi bukan tidak mungkin akan
melawan jika diperlukan. Mengapa? Untuk melindungi anak-anaknya, bukan dirinya.
Jika Anda menyaksikan film WILD ANIMAL, Anda bisa melihat bagaimana gigihnya
singa betina melawan singa-singa jantan hanya untuk melindungi anak-anaknya.
Jumlah betina yang lebih banyak memberikan keuntungan tersendiri ketika
menghadapi singa jantan (musuh) yang jumlahnya lebih sedikit. Solidaritas di
antara kaum wanita, sesungguhnya jauh lebih besar ketimbang yang ada pada kaum
pria. Tidak berbeda halnya dengan perjuangan kaum wanita dalam mengusulkan
Undang-Undang Anti Kekerasan di Rumah, hanya situasinya yang berbeda. Pointnya,
saya (pria) harus mencari wanita yang memiliki karakter betina yang sesungguhnya
pada wanita.
3 Kriteria Dasar
Seorang sahabat memberikan 3 kriteria wanita yang menjadi pilihannya. Cukup
menarik! Apalagi ternyata 3 kriteria tadi bisa nyambung dengan filosofi hukum
pelestarian. Ini penjelasannya:
1. Sifat Pemberi (Giver)
Sifat pemberi didasarkan pada insting betina yang dimiliki oleh kaum wanita. Jarang di antara kita yang menyadari jika insting kaum wanita (betina) jauh lebih tajam ketimbang pria. Mereka menggunakan perasaan yang merupakan bentuk paling dasar dari naluri keibuan. Jangan lupa, mereka juga bisa menggunakan perasaannya sebagai senjata atau mempertahankan diri. Lalu, apa yang dimaksudkan dengan sifat pemberi (giver)?
Kadangkala kaum pria hanya mengetahui jika kaum wanita adalah pihak yang selalu
diberi, entah perhatian, kasih sayang, atau apapun itu. Tidak salah, tapi sudah
melanggar prinsip keseimbangan hukum alam, yaitu hukum pelestarian. Wanita
dianugerahi suatu sifat pemberi yang luar biasa dari Sang Pencipta, bersamaan
ketika mendesain perasaan dan hati pada wanita. Jadi, sifat pemberi hanya ada
pada makhluk yang keputusannya didominasi oleh perasaan, dan itu hanya ada pada
wanita. Pria? Pria diberikan akal/logika sehingga hampir tidak mungkin jika
melanggenggkan sifat pemberi yang ada pada dirinya. Mengapa ini begitu penting?
Untuk menjawabnya, kita perlu kembali pada aturan hukum alam. Apapun sikap dan
kasih sayang wanita yang pernah diberikan kepadamu, seperti itulah yang nantinya
akan diberikan kepada anak-anaknya nanti. Pria yang dicintainya sekarang hanyalah refleksi dari kasih sayangnya untuk anak-anaknya. Mereka haruslah makhluk yang sangat perhatian, selalu gelisah mencari kabar tentang kekasihnya, dan memberikan rasa sayang tanpa pamrih. Kaum pria bisa mencari tahu di awal perkenalan dengan merasakan atmosfir kewanitaannya. Ya memang harus sabar. Sifat pemberi ini akan terlihat nyata ketika sudah berkeluarga dan memiliki anak. Jika saja sifat pemberinya tidaklah tulus, siap-siap saja nanti pasangan Anda minta baby siter atau penitipan anak. Baginya, kasih sayang bukan dari hati atau perasaan, akan tetapi dari materi. Bisa dibayangkan seperti apa nantinya anak-anak Anda. Kasihan bukan?!
2. Sifat Bisa Dipercaya (Trustworthty)
Awalnya agak bingung menghubungkan sifat ini dengan prinsip/kaidah hukum pelestarian. Setelah melihat berbagai pola dari kehidupan mamalia, akhirnya ketemu juga benang merahnya. Ternyata, wanita dianugerahi suatu sifat untuk menerima kepercayaan dari siapapun di luar dirinya sendiri. Kita persempit fokusnya, menerima kepercayaan dari calon pasangannya. Kepercayaan seperti apa?
Kepercayaan untuk bisa mengemban tugas dalam berkeluarga dan tentunya jika nanti memiliki keturunan. Kita harus ingat, yang membedakan manusia dan makhluk lainnya adalah adanya ikatan pernikahan. Wanita termasuk dari elemen penggoda iman dan dunia. Oleh karenanya, keseimbangan alam hanya bisa tercipta apabila kebutuhan akan kepercayaan sudah bisa saling dipenuhi. Jadi ini bukan sesuatu yang bersifat satu arah, akan tetapi bekerja dua arah.
Jika saja wanita yang Anda pilih sudah sering menunjukkan gelagat tidak bisa
dipercaya, sulit rasanya kita bisa mempercayakan anak-anak kepada mereka. Wanita yang sudah bisa menerima kepercayaan dari pria, tentu tidak akan bertingkah atau berperilaku yang mengundang kecurigaan atau prasangka buruk. Lain halnya apabila wanita tersebut menerimanya dengan tidak tulus, itulah yang akan terjadi, dan Anda (kaum pria) tidak akan banyak bisa mengharapkan dari wanita seperti ini. Catatan di masa lalu (track record) perlu diperhatikan pula karena di sinilah wanita dilihat caranya untuk menyelesaikan konflik dalam kehidupan cintanya. Bukan tidak mungkin jika suatu saat itu akan terulang pada pasangan barunya.
3. Sifat Luwes atau Tidak Kaku (Flexible)
Salah satu ciri utama dari makhluk hidup adalah kemampuan untuk beradaptasi terhadap segala perubahan iklim maupun peradaban. Ini juga berlaku ketika seseorang mencari/memilih pasangan. Satu fakta, jika baik wanita maupun pria
tidak hanya berbeda secara genital, akan tetapi juga berbeda dalam aspek struktur kepribadian dan cara berpikir. Intinya, gampangnya, tidak ada orang diciptakan sama. Faktanya, setiap pria ataupun wanita memiliki kepentingan yang sama. Jika Anda percaya dengan hukum alam yang mengatakan wanita adalah pendamping suami, maka Anda (kaum pria) harus mencari wanita yang bisa luwes atau tidak kaku dalam menjalin hubungan. Pada dasarnya makhluk wanita sudah dianugerahi sifat seperti ini, dan akan terlihat ketika Anda pertama kali mengenal mereka. Sayangnya, banyak pria yang seringkali mengabaikan sifat fleksibel, dan bahkan seringkali pula menyepelekan.
Sebagai orang nomer dua di rumah, wanita memiliki peran yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Keluwesan yang ada pada dirinya bukan tidak mungkin akan menentukan keberhasilan karir pasangannya ataupun keharmonisan rumah tangganya. Bukan tugas yang mudah, dan bukan tidak mungkin pula keberhasilan suatu transisi peradaban akan ditentukan dari kemampuan wanita beradaptasi dengan pasangannya. Sayangnya, sifat luwes pada wanita seringkali disepelekan dan lebih banyak disalah artikan sebagai wujud ego kaum pria. Dalam kitab suci sudah sering diperingatkan. Tidak sedikit pula filsuf yang mengingatkan lagi. Sifat fleksibel wanita akan menentukan kualitas dari suatu peradaban. Semua berawal dari rumah, dan semua berawal dari ketika Anda memilih mereka menjadi pasangan Anda.
Catatan:
Tulisan ini aku dedikasikan kepada mereka yang masih meyakini tentang kemurnian
cinta, kepada mereka yang masih berharap pada keindahan cinta. Trims buat Mas
Ben, yang begitu banyak memberikan inspirasi penulisan dan masukan tentunya.
Tidak lupa pula tulisan ini bisa menjadi evaluasi kepada semua pihak sebagai
wadah pembelajaran hidup. Semoga, kita semua tidak begitu saja melewatkan betapa indahnya hidup yang sudah dianugerahkan kepada kita, Amin.
(Yogyakarta, 27 Mei 2008)